Powered By Blogger

Selasa, 23 Maret 2010

Jangan Cabut Nyawa Ibuku

Hampir Setahun sudah Mak( biasa kupanggil), dirinya terbaring di atas pembaringan. Tak berdaya. Kesakitan. Menahan sakitnya yang makin ia rasakan. Hingga membuat ia tak kuasa untuk menahan sakit yang ia derita. “Aduh…aduh…Ya Allah,” begitu ia meringisnya menahan sakitnya.

Tiap Hari sudah ia begitu. Tak berdaya. Kesakitan. Dan tak jarang makan pun tak mau. Lama makin lama pun tubuhnya ikut menyusut—dengan ditambah kakinya yang lumpuh. Seakan penyakit yang diderita menggeroti dirinya. Dan begitu ia rasakan! Lalu aku bisa apa...?

Ya, aku bisa apa? Itulah jawaban dalam diriku!!!

Ibu Masih menahan sakitnya. Aku sebagai anak lelakinya melihat keadaan seperti itu sungguh aku tak kuasa. Terlebih ketika ia seringkali bergumam,” adu..aduh…!” Sungguh aku tak berdaya. Tak kuasa untuk melihatnya lebih lanjut. Benar-benar memilukan adegan yang kutangkap di mata minusku ini. Ibu satu-satunya. Orang yang aku kasihi sekaligus tempat berbagai gundah kini tak berdaya. Melihatku pun ia kadang smakin kabur. Yang ada hanya sebuah rasa sakit yang terbias di kelopak mata tuanya….Tuhan jangan cabut nyawa ibuku!

“Upami Mak Teu Aya jaga diri sareng kluarga nya nak...Gawena sin benar nu sabar nyah. Soal Imah mah ton di pikirkeun teuink ke oge bakal boga omat ulah sok pa sea jeung dulur.” Ucap saat aku ada dihadapannya. Ia memberikan sesuatu untukku. Entah itu wasiat atau nasehat lagi-lagi aku tak bisa menalarnya. Antara kesedihan dan rasa takut ditinggalnya telah menyatu dalam diriku. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku dengar baik-baik perkataannya walau rasa hatiku ngilu. Miris. Tak dapat aku katakan lagi. Tuhan apa nyawa ibuku sampai disini!

Aku terus bergumam. Dalam hati aku terus berdoa agar ibuku cepat diangkat sakitnya. Dan kalau bisa aku rela penyakitnya digantikan olehku. Apalah aku sampai saat ini aku belum bisa membahagiakannya. Kerja belum dapat yang sebenarnya. Tanggung jawabku sebagai seorang lelaki—serta suami dan ayah dari kluarga kecilku.aku belum bisa ber buat yg terbaik buat mereka, Tuhan! Itulah hati kecilku berkata. Karena aku tak ingin ditinggalkan oleh ibuku..!

***

“Mak udah minum obat belum? Jangan lupa di minum obat dari klinik. Biar Mak cepat sembuh!”
Begitulah setiap kali aku memperingatinya saat ia melihat ibuku di pembaringan. Tak berdaya. Kesakitan. Yang ada hanya airmata yang bisa ia hadiahkan untuk ku.


Aku pun tak bosan-bosannya memberikan semangat untuknya. Untuk semangat bangkit dari penyakitnya. Agar aku bisa melihatanya kembali pulih seperti sediakala. Dan aku tak ingin ia bersedih sekaligus melupakaan firman-firman-Mu yang tersirat itu. Jika memang demikian jika penyakit yang diderita ibuku agar dosa-dosa terhapuskan aku rela. Rela Dan rela.

Karena aku sayang ia ya Allah. Sayang! Aku Sayang sekali. Sebab Ia-lah orang yang paling mengerti diriku sekaligus memahami siapa diriku. Dan karena itu aku hanya meminta kepada-Mu ya Allah. Hanya satu. Ya, hanya satu. Tolong jangan cabut nyawa ibuku..!

Tidak ada komentar: